![]() |
| Aksi Demo 1 Des 2016 di Jakarta FRI, KBRI dan AMP |
Mengapa saya minta maaf? Iya, prasangka saya selama ini, sejak Papua di aneksasi hingga hari ini, pelaku kejahatan di Papua, subjeknya adalah militer (orang) Indonesia. Sejak hadir di tengah hujan amunisi hingga banjiran darah manusia papua yang tak salah, saya sendiri menyaksikan dalam berjalannya waktu. Saya tahu warna kulit si pembunuh dan siapa orang rambut lurus bagi saya. Terus saya tanamkan siapa musuh saya: tak lain adalah bangsa kulit putih, berambut panjang. Perasaan perbedaan etnis itu terus tumbuh dalam pelabuhan ingatan yang paling terakhir.
Sekalipun hidup berdampingan, bertetangga dengan rakyat Indonesia di Papua, tetapi perasaan etnis yang beda itu membuat saya tak bisa menerima mereka sebagai bagian dari saya: bahwa kita adalah makluk manusia yang sama.
Sekali lagi saya ucap beribuh kata maaf kepada rakyat Indonesia yang mengalami penggusuran, rakyat Indonesia yang mengalami kemiskinan di atas padi dan Sumber Daya Alam yang berimpah. Juga kepada rakyat Indonesia yang melawan kolonialisme Indonesia kepada bangsa Papua.
Mengapa saya minta maaf? Pertama beri hormat kepada orang Indonesia yang menyatakan diri bahwa ada sebagian orang Indonesia yang tak sama-sama di barisan penjajah. Dengan dideklarasikannya Front Rakyat Indonesia Untuk Rakyat Papua (FRI-West Papua), saya semakin pahami siapa musuh saya yang sebetulnya. Dengan adanya dukungan Pembebasan Papua Barat dari Front dan Induvidu, telah membebaskan saya (orang Papua) dari prasangka-prasangka perbedaan-perbedaan etnis: Bermusuhan antara rakyat tertindas Papua dan Indonesia.
Saya juga meminta maaf kepada Rakyat Indonesia yang bergabung dalam aksi FRI West Papua di seluruh Indonesia. Sebab membebaskan rakyat Papua dari Prasangka-prasangka tadi, adalah hal yang tak semudah balikan telapak tangan. Selama 52 tahun, sejak papua di aneksasi, subjek pelaku tersimpan berakar di dalam ingatan. Dan tak mungkin akan membebaskan manusia papua dari prasangka-prasangka itu dalam sekejap setelah deklarasi Fri West Papua, yang telah nyatakan dukungan secara terbuka dan pertaruhkan nyawa untuk Hak Penentuan Nasip Sendiri bagi orang Papua.
Fri west Papua dan semua induvidu-induvidu orang Indonesia yang telah nyatakan dukungan penuh dan terlibat penuh dalam aksi-nyata perjuangan pembebasan Papua Barat, telah memberikan pelajaran berharga bahwa tak semua orang Indonesia adalah pelaku penjajah bagi tanah, air, dan bangsa Papua Barat. Telah saya sadari bahwa pelaku kejahatan adalah imperialisme yang mencekam bumi pulau-pulau Nusantara dan Papua, dan menguras Rakyat Papua dan Rakyat Indonesia, tentunya.
Pembebasan bagi Papua dari prasangka-prasangka subjektif dan pembebasan dari penindasan imperialisme, yakni induk dari kolonialisme dan militerime adalah perjuangan kita bersama dalam satu nasionalisme. Disisi lain juga membebaskan rakyat Indonesia dari letimasian NKRI Harga Mati oleh kaum kapitalis untuk meloloskan kepentingan mereka, untuk terus memupuk kapitalnya.
Pada prinsipnya, aksi massa 1 Desember 2016 adalah awal bangkitnya embrio nasionalisme bangsa tertindas. Kita akan pastikan siapa kawan dan siapa lawan yang sebenarnya. Perjuangan kita adalah untuk membebaskan kaum kapitalis, borjuasi dari filsafat-filsafat yang telah mengakar dalam tengkoraknya.
Pembebasan Rakyat Papua adalah tanggungjawab orang Indonesia dan Papua, begitu juga perjuangan Rakyat Indonesia dari penindasan oleh borjuasi-birokrat yang korup adalh tanggungjawab orang Papua dan rakyat Indonesia. Begitu pula pembebasan rakyat tertindas di dunia ini adalah tanggungjawab kita bersama. Hasta La Simpre. Hormat Kamerad.
Lawan Imperialisme!
Lawan Kolonialisme!
Lawan Militerisme!



0 Comments