![]() |
| Perempuan Baliem dan Masa Depan Papua/IST |
Martabat manusia perempuan
dan laki-laki sama. Keduanya sederajat dan saling melengkapi. Keduanya menjadi
berbeda dalam peran dan tugas ketika disandingkan dengan adat dan budaya pada
masing-masing komunitas. Umumnya, masyarakat dengan budaya patrilineal (mengikuti
garis keturunan bapa-laki-laki) cenderung menempatkan perempuan sebagai
pelengkap. Sementara, pada budaya matrilineal (mengikuti garis keturunan
mama-perempuan) perempuan mendapatkan peran lebih menonjol daripada laki-laki.
Baik, patrilineal, maupun matrilineal, keduanya merupakan konstruksi budaya,
bukan kodrat manusia yang sudah ada sejak dalam rahim perempuan.
Pokok diskusi kali ini
adalah perempuan Baliem. Kita mau bercakap-cakap tentang perempuan Baliem dan
pergumulannya. Seiring perkembangan dan kemajuan orang Papua, perempuan Baliem
perlu merefleksikan dirinya: "Siapakah saya sebagai perempuan Baliem"
di tengah realitas sosial di tanah Papua?
Dilahirkan sebagai perempuan Baliem
![]() |
| Perempuan Baliem dan Masa Depan Papua/ IST |
Seyogianya, setiap
perempuan Baliem bangga dilahirkan
sebagai perempuan Baliem. Di Lembah Agung, Pegunungan Tengah, perempuan Baliem
sejak kanak-kanak dilatih merajut noken, menanam, merawat dan memanen hipere,
memasak untuk keluarga, merawat anak-anak, memelihara babi dan berbagai
pekerjaan lainnya. Sejak pagi sampai malam hari, perempuan Baliem tidak pernah
luput dari aktivitas rutin yang menjadi tanggung jawabnya itu.
Rangkaian aktivitas yang
dilakoni perempuan Baliem ini, dilihat sebagai sebuah kebanggaan. Perempuan
Baliem merasa bangga diberi kepercayaan yang besar untuk bekerja dan mengelola
rumah tangga. Meskipun segala keputusan selalu menjadi kewenangan laki-laki.
Sikap taat dan setia perempuan Baliem memperlihatkan bahwa mereka menghormati
kaum laki-laki dan siap bekerja untuk kelangsungan hidup komunitasnya. Pilamo
dan honay tanpa perempuan Baliem yang tangguh, sesungguhnya tidak ada
kehidupan.
Proses pematangan
perempuan Baliem supaya menjadi perempuan tangguh terjadi dalam keluarga. Di
ewey, di dapur, dan di kebun perempuan Baliem mendapatkan pendidikan nilai.
Nilai memberikan diri dan hidup untuk komunitas. Nilai-nilai ini secara
spesifik diperoleh dari mama, yang selalu bekerja keras untuk hidup keluarga.
Noken di kepala dan kayu pengolah kebuh di tangan adalah simbol perempuan
Baliem yang siap bekerja untuk keluarga dan komunitasnya, tanpa mengeluh. Mama
dan noken, mama dan tanah (kebun), mama dan kandang babi, mama dan tungku api,
merupakan percikan simbol bahwa perempuan Baliem memegang peran sentral bagi
masa depan orang Baliem.
![]() |
| Perempuan Baliem dan Masa Depan Papua |
Sekali lagi tanpa perempuan Baliem yang tangguh, orang
Baliem tidak akan mencapai kepenuhan hidupnya. Kehebatan mama dalam keluarga,
tidak serta merta meniadakan peran bapa. Dalam keluarga, seorang bapa, bagi
orang Baliem adalah pelindung bagi keluarga dan komunitasnya. Bapa buka kebun,
bikin pagar dan balik tanah. Di dalam keluarga, terutama di dapur terlihat
jelas bagaimana keluarga-keluarga orang Baliem dibangun dan dipelihara. Saling
membagi adalah kekhasan adat dan budaya yang melekat pada orang Baliem. Orang
Baliem sejati adalah mereka yang siap membagi bagi sesama, sebagaimana yang
ditunjukkan oleh tokoh mitos, Naruekul. Sikap membagi ini dimulai dalam
keluarga, honay dan pilamo.
Di balik rasa bangga
sebagai perempuan Baliem, ada sejumlah pergumulan yang patut diungkapkan, yakni
anak-anak perempuan Baliem dinikahkan secara adat saat masih berusia belia.
Saat alat-alat reproduksi perempuan belum berfungsi, ada orang tua yang sudah
menikahkan anak-anaknya. Ironinya, anak-anak ini menjadi istri kesekian dari
laki-laki yang dijodohkan. Sebagai anak Baliem, menerima kenyataan ini tanpa
banyak komentar. Anak-anak perempuan Baliem tersandara oleh adat dan budayanya.
Dewasa ini, situasi
tersebut mulai berkurang, seiring kemajuan teknologi dan informasi serta
transportasi, perempuan Baliem memiliki kesempatan untuk belajar di luar
daerahnya. Namun, tidak dapat dimungkiri masih banyak perempuan dan anak-anak
Baliem yang berada dalam indoktrinasi budaya yang ketat seperti yang disebutkan
di atas. Perlu kerja keras untuk memberikan pencerahan tentang kesetaraan
martabat laki-laki dan perempuan sehingga perempuan Baliem tidak tersinggung
ketika pekerjaannya mulai dikerjakan laki-laki. Demikian halnya, tumbuh
kesadaran dalam kalangan laki-laki Baliem untuk mengerjakan tugas-tugas yang
selama ini menjadi pekerjaan rutin perempuan.
Perempuan Baliem Dan Masa Depannya
![]() |
| Perempuan Baliem dan Masa Depan Papua /IST |
Saat ini, banyak perempuan
Baliem keluar dari Lembah Agung ke Jayapura dan berbagai daerah lainnya. Ada
yang ikut suami, ada pula yang sekolah atau kuliah di universitas. Perempuan
Baliem yang sekolah atau kuliah, sebagian tinggal dengan keluarga, dan lainnya
tinggal di asrama pemerintah dan swasta. Di mana pun perempuan Baliem tinggal,
dan apa pun profesinya, perempuan Baliem memiliki masa depan. Perempuan Baliem
harus membuat pilihan atas masa depannya. "Saya perempuan Baliem, saya mau
menjadi apa, pada hari ini dan hari esok?" Pilihan hidup sangat penting
karena menjadi titik pijak untuk mengarahkan pandangan dan komitmen.
Khusus untuk perempuan
Baliem yang sedang mengenyam pendidikan, di mana saja berada, perlu menyadari
bahwa pada diri mereka terpampang harapan besar untuk menjadi perempuan Baliem
tangguh pada masa depan. Perempuan Baliem dengan predikat pekerja keras perlu
menonjolkan sikap tekun belajar guna menyiapkan diri menjadi abdi dan pelayan
komunitasnya. Perempuan Baliem perlu memiliki mental dan kepribadian yang utuh;
tidak terpecah apalagi tercelah.
Perempuan Baliem juga
perlu menyadari bahwa mereka adalah perempuan tangguh yang bekerja untuk hidup
dan komunitasnya. Perempuan Baliem memiliki jiwa periang, ramah, pekerja keras,
tekun dan memiliki jiwa membagi. Lebih dalam, perempuan Baliem adalah mama
sekaligus bapa yang senantiasa memberikan perlindungan baik untuk dirinya
sendiri, komunitasnya, alam dan leluhur. Relasi holistik orang Baliem ini
menjadi kekuatan untuk menatap masa depan yang lebih baik.
![]() |
| Perempuan Baliem dan Masa Depan Papua/IST |
Perempuan Baliem perlu
menyadari bahwa mereka keluar dari Lembah Agung, dari Pilamo dan Honay untuk
meraih masa depan yang lebih baik. Untuk menggapai impian tersebut, perempuan
Balim harus memelihara sikap hidup baik: menjaga diri, teguh pada pilihan dan
prinsip hidup baik, tidak mudah terpengaruh oleh perubahan negatif, tekun
belajar dan siap menolong sesama yang berkekurangan. Sebagai perempuan Baliem,
tidak bisa hidup untuk diri sendiri. Perempuan Baliem selalu membagi.
Sebagaimana ia membagi hipere kepada keluarga dan komunitasnya, demikian halnya
perempuan Baliem harus membagi ilmu dan kemampuannya untuk sesama, tanpa
kecuali.
Contoh konkret dan
kontekstual, perempuan Baliem di Jayapura perlu mengembangkan diri, mengasah
diri dengan keterampilan teknis, menjadi ahli komputer, ahli kesehatan, ahli
pertanian, dan lain sebagainya. Ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku
sekolah dan kuliah perlu ditingkatkan dalam praktek hidup. Perempuan Baliem
harus menjadi pelopor enterprenurship, jiwa kewirausahaan, bukan bermental
Pegawai Negeri Sipil.
Untuk sampai ke sana,
perempuan Baliem dituntut memiliki sikap peka dan terbuka terhadap berbagai
alternatif pengembangan diri. Perempuan Baliem perlu memetakan potensi dirinya,
peluang dan tantangan yang ada untuk memperoleh kesempatan yang ada. Selain
itu, perlu membangun ketekunan bekerja, mental melayani, jujur dan rendah hati.
Kebajikan-kebajikan ini, sangat dibutuhkan dalam mendukung karir dan masa depan
yang lebih baik. Apa pun profesi yang diemban, sikap-sikap tersebut menjadi
modal untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Namun, saat ini sering
dijumpai perempuan Baliem yang terlalu mudah tergiur dengan berbagai tawaran
instan; tidak kuliah dengan baik, tetapi memperoleh ijazah. Terlalu bebas dalam
pergaulan, sehingga terlibat dalam praktek seks bebas, hamil tanpa suami yang
jelas dan tidak menyelesaikan kuliah. Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan
Baliem sedang menyangkal dirinya sendiri sebagai manusia sejati Baliem yang
memiliki adat dan budaya. Kalau perempuan Baliem tidak mampu menyelesaikan
sekolah dengan baik, bahkan kalau perempuan Balim tidak memiliki prestasi dalam
hidupnya, ia sebenarnya bukan perempuan Baliem.
Sebagai perempuan Balim,
harus mempraktekkan jiwa kerja keras, tekun, ramah dan memiliki sikap berbagai
tanpa pamrih. Sebagaimana mama mengolah kebun dan mengurus rumah tangga,
demikian halnya, kaum perempuan Baliem, yang mengindentifikasi sebagai kaum
intelektual perlu menunjukkan sikap kerja kerasnya, bukan sebaliknya bermental
penguasa otoriter yang malas bekerja, apa lagi melayani. Kini dan ke depan,
perempuan Baliem perlu kembali ke nilai-nilai hidup baik yang diwariskan
turun-temurun, supaya masa depan menjadi lebih baik.
Perempuan Baliem, Agen
Perubahan Setiap manusia mengharapkan perubahan ke arah yang lebih baik. Hidup
sederhana di kampung-kampung terpencil di Lembah Agung Baliem hendaknya
memotivasi perempuan Baliem untuk melakukan perubahan. Perubahan dimaksud tidak
harus langsung spektakuler, melainkan dimulai dengan hal-hal yang paling
sederhana. Perubahan pertama dan utama dimulai dari diri sendiri. Apa yang
perlu diubah?
Perempuan Baliem hidup,
tumbuh dan berkembang dalam budaya patrilineal yang ketat. Laki-laki sering
mensubordinasi perempuan melalui pembagian peran, yang diwariskan
turun-temurun. Di sisi lain, perempuan menerimanya sebagai hal lumrah. Bahkan
kalau laki-laki mencoba mengambilalih perannya, perempuan Baliem merasa
tersinggung karena menganggap laki-laki tidak memercayainya. Paham seperti ini
perlu direfleksikan kembali, terutama berkaitan dengan penghormatan terhadap
martabat manusia laki-laki dan perempuan di hadapan sang Pencipta. Perempuan
tidak diciptakan untuk menjadi pembantu laki-laki. Perempuan adalah rekan
sejawat laki-laki, saling melengkapi. Apa yang dikerjakan laki-laki, bisa
dikerjakan perempuan, sejauh tidak mengganggu tatanan fundamental adat.
Misalnya, menjadi kebiasaan umum di Baliem, seorang perempuan tidak diperkenankan
mengatur adat. Tetapi, kalau menanam, memanen, masak, cuci pakaian, cuci
piring, ini bisa dikerjakan laki-laki.
![]() |
| Perempuan Baliem dan Masa Depan Papua/IST |
Proses edukasi tentang
kesetaraan gender dalam kalangan orang Balim, perlu digiatkan oleh kaum
perempuan Baliem. Perempuan perlu mengambil peran ini, supaya ke depan terjadi
kesetaraan gender dalam berbagai aspek. Jangan sampai perempuan Baliem dari
waktu ke waktu tetap menjadi ‘pembantu atau bawahan laki-laki.' Perempuan perlu
memberikan pencerahan bagi laki-laki Baliem bahwa mereka perlu bekerja sama
dalam membangun rumah tangga, mendidik anak-anak, mengolah kebun dan mengurus
ternak babi. Kerja sama dalam keluarga akan membuahkan hasil yang baik,
keluarga sejahtera, hidup rukun dan damai.
Perempuan perlu memberikan
pemahaman kepada laki-lai Baliem bahwa zaman perang sudah berakhir. Saat ini,
orang Baliem perlu bekerja, membangun hidup keluarga, komunitas dan
masyarakatnya. Jangan sampai kebiasaan leluhur tempoe doeloe menjadi alasan
klasik "memperbudak" perempuan. Laki-laki dan perempuan Baliem perlu
melihat, merefleksikan dan menjalankan hidup mereka dalam kekinian, memang
tanpa meninggalkan seluruh adat dan budayanya. Adat dan budaya yang baik, yang
mendukung nilai-nilai hidup baik patut dipertahankan, bahkan dilestarikan;
sedangkan yang meredusir martabat manusia sebagai laki-laki dan perempuan perlu
ditinggalkan.
Saat ini, pejuang
perempuan Papua gencar mengkampanyekan gerakan melawan ketidakadilan gender.
Upaya ini tepat dan cocok dengan konteks Papua, yang didominasi kaum laki-laki.
Tetapi, perlu disadari bahwa perempuan Baliem memiliki tanggung jawab untuk
terlebih dahulu menghormati diri dan pribadinya. Perempuan Baliem perlu melihat
dirinya yang berharga itu sebagai anugerah yang patut dihormati dan dilindungi.
Hal ini sangat penting, karena saat ini tidak jarang dijumpai ada begitu banyak
perempuan Baliem yang terlibat dalam aktivitas negatif yang meredusir
martabanya sendiri. Misalnya, terlibat dalam konsumsi miras, seks bebas, malas
kuliah, dan lain sebagainya. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa perempuan
Baliem tidak menghormati martabat pribadinya.
![]() |
| Perempuan Baliem dan Masa Depan Papua/IST |
Perempuan Baliem juga,
perlu menghormati dan menghargai sesamanya dan alam. Seringkali perempuan
Baliem lupa bahwa kehadiran dirinya di tengah komunitasnya berkat campur tangan
banyak pihak, tetapi sering diabaikan. Sebagia perempuan Baliem sikap
menghormati dan menghargai sesama merupakan ciri penting yang tidak bisa
diabaikan. Orang Baliem umumnya, dan khususnya kaum perempuan tidak memiliki
jiwa sombong dan angkuh; yang dimiliki adalah kekerabatan dan membagi. Perempuan Baliem juga perlu menanamkan dalam dirinya jiwa ekologis, menghormati
alam semesta. Tindakan konkret yang dapat diterapkan, misalnya meletakkan
sampah pada tempatnya, tidak menebang pohon sembarangan, menanam pohon, menggunakan
kertas secara hemat dan lain-lain.
Perlu diingat bahwa relasi
kekerabatan orang Baliem tidak hanya sebatas dengan yang bisa dilihat dengan
mata, melainkan juga dengan leluhur.
Orang Baliem, perempuan Baliem ada dan
hadir di dunia ini didahului oleh para leluhur. Mereka patut dihormati, bukan
disembah. Perempuan Baliem perlu menanamkan sikap menghormati leluhur dan
mewariskannya. Jangan sampai pendidikan dan ilmu pengetahuan yang diperoleh di
bangku studi meredusir bahkan melenyapkan relasi dengan leluhur yang diwariskan
turun-temurun. Perlu dipahami juga bahwa menghormati leluhur tidak berarti
menyembah mereka, melainkan menghormati dan menempatkan mereka sebagai rekan
dalam perziarahan hidup.
Nilai fundamental yang
tidak bisa diabaikan yakni sikap melayani. Perempuan Baliem pada dirinya
mewarisi nilai melayani yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Perempuan
Baliem sejak kecil dilatih dan dididik menjadi pribadi tangguh dan memiliki
jiwa pekerja keras. Di manapun perempuan Baliem berada dan berkayarya perlu
menghayati dan mempraktekkan sikap melayani tanpa pamrih. Dewasa ini, tanah
Papua membutuhkan perempuan Papua, yang memiliki hati seorang mama yang siap
mendengarkan dan melakukan perbaikan dalam berbagai aspek hidup orang Papua.
Semoga impian dan harapan ini bisa lahir dan diwujudkan perempuan-perempuan
Baliem.
Sumber: Putri Melanesia









0 Comments