Tech News

header ads

Teror dan Intimidasi Mahasiswa Papua Merupakan Bagian dari Penjajahan

Teror dan Intimidasi Mahasiswa Papua Merupakan Bagian dari Penjajahan

Oleh, Jhon Gobay

Pertumbuhan berpendidikan, berpengetahuan bagi suatu generasi dibawa teror dan intimidasi oleh aparatus tak akan berkembang dengan baik. Kondisi keberadaan sosial Rakyat Papau Barat, sejak Invasi Kolonialisme Indonesia dengan kekuatan Militer hingga detik ini sedang berada dalam situasi penekanan secara fisik dan mental.
Belum kita bicara/membuka kebenaran tentang kebiadaban Militer di Pelosok Perkampungan. Militer masuk Desa, kampung, hingga masuk dalam Sekolahan. Mahasiswa Papua di luar Papua saja Indonesia secara terstruktur dan tersistematis melakukan hal itu. Seperti kejadian di kota Malang, malam ini (03 November 2017), TNI-Polri meneror Mahasiswa Papua saat sedang melakukan Seminar tentang kesehatan (HIV_AIDS) di Papua.
Secara sistematis dilakukan oleh Aparatus Negara: TNI-Polri, Inteligen serta Ormas Reaksionernya.
Pertama, Keberhasilan Negara dalam meneror psikologi mahasiswa Papua dengan stigma Separatis, dan rasis dalam melihat mahasiswa asal Papuanya. Pada permukaannya terlihat pasca pengepungan Asrama Papua Yogyakarta selama 3 hari—14-16 Juli 2016. Sultan HB ke X, sebagaimana simbol raja Jawa mengatakan mahasiswa Papua adalah separatis. hal tersebut direspon baik oleh TNI, Polisi, Inteligen dan Ormas Reaksioner yang sudah sejak 2014 selalu menghadang aksi penyampaian pendapat dimuka umum oleh mahasiswa Papua.
Secara tersistematis negara melalui aparatus reaksionernya menanggapi aksi dan aktivitas mahasiswa Papua dengan tidakan yang berlebihan. Hingga Inteligen masuk kampus. Mereka mendatangi asrama-asrama dan kos-kosan dimana Mahasiswa Papua Berada. Seperti yang terjadi di Bandung, Jakarta, Bogor, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Menado, dan hampir seluruh kota di Indonesia.
Hal tersebut Negara sudah melanggar Hak Setiap Menusia untuk mendapatkan pendidikan, berpengetahuan secara sehat. Mengapa Negara? Karena secara sturktur dan sistimnya memang dari aparatus Reaksioner Negara lah pelakunya. Dan bukan aksi spontan.
Negara, melalui aparatusnya sedang membangun struktur hegemoni secara fisik dan spisikis untuk terus meneror dan mengintimidasi mahasiswa Papua dalam Dunia berpendidikan dan berpengetahuan.
Hal ini jauh lebih sadir perlakuan Inggris kepada Papua New Guinea yang tak memberikan kesempatan kepada penduduk PNG untuk mendapatkan pendidikan. Atau suku Aborigin di Austalia untuk tak mendapatkan kesempatan yang selayak sama seperti manusia yang lain.
Lebih sadis ketika secara terstruktur dan tersistematis meneror mahasiswa Papua. Maka tak heran, ketika, kalau pun banyak sarjana mudah asal Papua yang lulus dengan gelar S1 hingga S lilin, tetapi sakit jiwa semua.
Maka, Negara, Rezim Jokowi-JK, Kapolri, Panglima TNI, Kepala Inteligen Indonesia, harus dan secara sadar, berdasarkan modal pancasilah dan berorientasi pada prinsip-prinsip HAM dan Nilai-Nilai Demokratis yang semestinya harus di junjung sebagai manusia Indonesia yang sehat secara berkembangsaan, haruslah menghargai dan menghormati serta turut menjaga Hak-Hak manusia, Mahasiswa Papua untuk menempuh jejang pendidikan, menimba ilmu, dan medapatkan kesempatan sebagai manusia-makluk sesama, untuk mengabdi pada hidup ini; berkarya sesuai profesinya, atas kesadaran dan kehendaknya mempersembahkan kemampuannya pada Bangsa yang sedang Anda jajah, bangsa West Papua.
Seharusnya Anda semua menjadi dan mendalam dalam nilai-nilai Pancasilah. Mendalam dalam Praktek tongkat Bangsamu, bangsa Indonesia. Agar menjadi Bangsa yang bermartabat; dan menghargai kemanusiaan.
Kendatipun demikian, kawan, sahabatku yang tercinta, kita adalah bangsa yang sedang di jajah. Dijajah oleh Indonesia. Menurut logika penjajah, hal itu wajar lakukan kepada bangsa terjajah. Tetapi bagi kita, kawan, kita adalah generasi penentu untuk masa depan. Apakah kelak anak-cucu kami akan mendapatkan perlakuan yang sama dibawa Kolonialisme Indonesia, atau mereka akan lebih baik dari kondisi kita, hari ini. Bagi kita, tidakan Negara melalui arapatus tersebut, bukanlah kondisi yang harus diterima. Anda dan saya sedang mengalami hal itu.
Secara kuantitas, kita sedikit. Tetapi, kawan Che Guevara dengan 12 anggota Tentara bergerilya di hutan Kuba, mengepung dari markas ke markas yang lain, hingga mampu mengalahkan 3000 lebih prajurit tentara Batista. Dibawa tekannan/serangan Invasi Militer Batista dan Asing, dengan 12 prajurt yang punya disiplin dan termanuver, revolusi terjdi dan kemenangan bagi mereka.
Kita memang sedikit. Keteladanan kawan Che Guevara, Lenin, Kelik Kwalik, Mako Tabuni, Goliat Tabuni, dsb, dsb, adalah nilai terpenting dalam membebaskan diri kita, rakyat bangsa Papua yang sedang terjajah, saat ini. Merubah nasib anak cucuk bangsa Papua Barat.

Tanah air atau mati—Che Guevara
***
Yogyakarta, 03 Oktober 2017

Post a Comment

0 Comments