Syair itu terdengar indah...
Kami terlelap, bangun pun enggan susah karna nostagia yang membisik, meniduri kami dalam sparuh jiwa gulita.
Dalam dunia yang kerap tenggelam dalam ketidak tahuan, kini kami masih merasa itu sesungguhnya jawaban, walau hanya topeng dan drama semata, membutakan kami tuk melihat mentari saat terang memecah kegelapan.
Wahai kau bangsa-ku, rakyat-ku...
Saat wajah Otsus datang dalam keemasan, kami tak sadar kalau itu hanya topeng tanpa isi...
kami tak sadar, dramatis kata melemahkan esensi tentang kelangsungan hidup kami...
Bahkan arti asli kami pun dikebiri sesuka mereka yang tak tahu siapa kami, bahkan menghilangkan definisi kami.
Wahai Kau bangsa-ku, rakyat-ku...
Datangnya kami terkadang pikir solusi, walau tanah adat lenyap, HAM makin melaju tinggi, gugur satu demi satu Bangsa-kami ditembusi timah panas, pelaku tak pernah dijerah.
Wahai kau bangsa-ku, rakyat-ku...
Terkadang suara kosongnya masih kami anggap hebat dan memberi angin segar, kami masih buta tuk melihat kewenangan yang super, yang bisa dipakai tuk protek keselamatan kami, yang kini tinggal hitung jumlah di ujung dunia Genosida.
Cukup...
Cukup...
Cukup kami tidur pulas dalam sandiwara slogan kosong....
Cukup kami terbuai dengan kata-kata kosong tanpa adanya kongkritisasi kewenangan.
Saatnya “TIFA” kebenaran dikumandangkan, agar tak ada lagi topeng sandiwara dalam slogan kosong menutupi pandangan kami.
Jakarta, 3 September 2018
Marthen Goo



0 Comments